Windo Maulana Seplijon

Windo Maulana Seplijon lahir pada tahun 1992. Ia adalah sosok dengan latar belakang pendidikan teknologi informasi, pengalaman profesional di dunia perbankan, semangat kewirausahaan, kepemimpinan organisasi, serta kecintaan yang mendalam terhadap seni dan silat tradisional Minangkabau.

Windo menempuh pendidikan jenjang Diploma III (D3) dalam bidang Manajemen Informatika. Latar belakang ilmu tersebut membekalinya dengan pemahaman yang menyeluruh tentang teknologi sekaligus pengelolaan organisasi — yang kelak menjadi salah satu landasan kokoh dalam perjalanan karier maupun usaha yang digelutinya.

Sebelum terjun lebih luas ke dunia kewirausahaan, Windo terlebih dahulu berkarier di sektor perbankan. Pengalaman itu turut membentuk kedisiplinan dan pola pikir profesionalnya, sekaligus memperkaya wawasan mengenai tata kelola bisnis, pelayanan prima, dan manajemen organisasi yang sehat.

Di bidang usaha, Windo kini dipercaya menjabat sebagai Direktur pada CV. Aksara Radhika, perusahaan yang bergerak sebagai penyedia barang/jasa dan kontraktor. Ia juga merangkap sebagai Direktur PT. Aksara Radhika Property. Langkah-langkahnya di dunia bisnis mencerminkan komitmen untuk membangun usaha secara profesional, adaptif terhadap perubahan, serta berkelanjutan.

Di sela-sela kesibukan profesional dan bisnis, Windo juga aktif dalam lingkup komunitas otomotif. Ia menjadi bagian dari FEVCI (Ford Everest Club Indonesia), wadah yang mempertemukan para penggemar dan pengguna kendaraan Ford Everest. Melalui komunitas ini, ia memperluas silaturahmi, membangun jejaring, dan bersilaturahmi dengan berbagai kalangan yang memiliki minat serta semangat kebersamaan yang senada.

Namun, salah satu sisi yang paling mendalam dan membentuk karakter Windo adalah keterlibatannya dalam melestarikan dan meneruskan seni bela diri tradisional Minangkabau.

Cintanya terhadap silek telah tumbuh sejak masa remaja. Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Windo mulai mendalami silek secara langsung di bawah bimbingan ayahandanya, Yurnas Bustamam, yang dikenal dengan nama Tuo Silek Sibinuang Sakti. Dari tangan sang ayah, ia tidak hanya menguasai teknik dan pergerakan silek, melainkan juga menyerap nilai-nilai luhur berupa disiplin, ketekunan, keberanian, tanggung jawab, serta seluruh tata nilai kehidupan yang melekat dalam kearifan tradisi silek Minangkabau.

Bekal tersebut kemudian membawanya memikul amanah sebagai Ketua Umum Perguruan Silat Sibinuang Sakti. Dalam kedudukannya, Windo turut memastikan keberlangsungan hidup perguruan sekaligus meneruskan pewarisan nilai dan tradisi silek kepada generasi penerus.

Pengabdiannya pun meluas ke lingkup yang lebih luas. Windo dipercaya menjabat sebagai Ketua Bidang Ekonomi pada Persatuan Silat Tradisional Minangkabau (PSTM). Amanah ini menjadi ruang baginya untuk berkontribusi memperkuat aspek kemandirian dan daya ekonomi organisasi serta ekosistem silek tradisional, agar warisan budaya yang berharga ini terus tumbuh dan tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Bagi Windo, silek bukan sekadar kemampuan bela diri. Di dalamnya tersimpan kekayaan filosofi, pendidikan karakter, disiplin, penghormatan kepada guru, serta tanggung jawab luhur untuk menjaga dan meneruskan warisan leluhur.

Perjalanan hidup Windo Maulana Saplijon adalah cerminan keselarasan antara profesionalisme, semangat membangun usaha, jiwa kepemimpinan, kehidupan bermasyarakat, dan pelestarian budaya. Dunia perbankan menempa profesionalismenya; dunia usaha memberinya ruang untuk berkarya dan menciptakan manfaat; sementara organisasi dan silek menjadi wadah pengabdian sekaligus penjaga akar budaya yang tak boleh hilang.

Berbekal pengalaman yang beragam tersebut, Windo bertekad melangkah sebagai bagian dari generasi yang mampu berjalan seiring kemajuan zaman, tanpa pernah meninggalkan akar jati diri.

Ia meyakini: kemajuan zaman bukan alasan untuk meninggalkan tradisi. Justru tradisi harus diberi ruang untuk terus tumbuh, berkembang, dan memberi manfaat yang nyata bagi generasi masa kini maupun masa depan.

Diberdayakan oleh Blogger.